WELCOME TO MY MIKRO BLOGGING (ERI NURYAMAN), I HOPE WE CAN FIND NEW AND MORE KNOWLEDGE

Sabtu, 18 Desember 2010

SEPUTAR TASIKMALAYA

Visi & Misi 

Visi Kabupaten Tasikmalaya
"TASIKMALAYA YANG RELIGIUS/ISLAMI, SEBAGAI KABUPATEN YANG MAJU DAN SEJAHTERA, SERTA KOMPETITIF DALAM BIDANG AGRIBISNIS DI JAWA BARAT TAHUN 2010"

Misi Kabupaten Tasikmalaya
  1. MEWUJUDKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERIMAN DAN BERTAQWA SERTA BERAKHLAQUL KARIMAH
  2. MEWUJUDKAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS DAN MANDIRI.
  3. MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK DAN PEMERINTAHAN  YANG BERSIH
  4. MEWUJUDKAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH MELALUI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DENGAN DIDUKUNG OLEH SEKTOR LAIN
  5. MEWUJUDKAN TATA RUANG DAN PENGELOLAAN PERTANAHAN YANG BERKESINAMBUNGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN 
1. Arti Lambang Kabupaten Tasikmalaya

  • Perisai bersudut lima berwarna putih menunjukan sifat gotong royong yang berintikan Pancasila, melambangkan kepribadian, adat istiadat,kepercayaan dan kebudayaan rakyat daerah, sejak dulu sekarang dan kemudian.
  • Gunung melukiskan Gunung Galunggung berwarna biru yang melambangkan ciri tasikmalaya.
  • Simbol Industri melambangkan sebagian dari sumber penghidupan rakyat beserta kekayaan alam di daerah Kabupaten Tasikmalaya.
  • Tiga Buah Sungai melambangkan pemberi sumber kehidupan rakyat.
  • Sawah berwarna hijau terdiri dari 17 petak, melambangkan kesuburan/kemakmuran rakyat yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
  • Sawah berwarna kuning melambangkan sebagian penghidupan rakyat yang didapat dari kerajinan tangan.
  • Bambu Runcing terbuat dari haur kuning melambangkan sejarah perjuangan rakyat daerah Tasikmalaya dalam mengusir kaum penjajah.
  • Pita Kuning Melambai bertuliskan "Sukapura Ngadaun Ngora" melambangkan kemajuan yang abadi.
  • Warna Putih Mengkilat melambangkan tekad suci, warna hitam berarti kekal dan abadi, warna kuning melambangkan keadaan yang gilang gemilang (keemasan), warna hijau melambangkan kehidupan yang tertinggi, adil dan subur makmur sedangkan warna biru berarti kesetiaan dan kejujuran.
 2. Sejarah Singkat Kabupaten Tasikmalaya


 

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.

Demografi  Kondisi Demografis Kabupaten Tasikmalaya



Kependudukan
Pencatatan penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik bersumber dari 3 hal:
1. Survei Kependudukan
2. Sensus Penduduk
3. Registrasi Penduduk
Survei Kependudukan , dilakukaan kapan saja dan dimana saja di wilayah Republik Indonesia, atau Domestik di wilayah kabupaten Tasikmalaya. Hasilnya merupakan laporan Kependudukan.
Sensus Penduduk, dilakukan hanya 10 tahun sekali pada tahun-tahun yang bilangan tahunnya berakhiran angka 0. Cara ini yang dapat diandalkan karena dasar pelaksanaannya adalah undang undang dasar negara dan berbagai peraturan pemerintah.

Registrasi Penduduk, dilakukan pada tingkat Desa/Kelurahan oleh aparat desa/kelurahan pada setiap waktu. Dari hasil inilah Badan Pusat statistik membuat laporan kependudukan bulanan dan setengah tahunan yang diantaranya ditampilkan dalam bentuk tabel-tabel.
Sebagian besar pekerjaan penduduk di kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2005 adalah pada lapangan usaha pertanian dan perdagangan.


Dari Buta Hurup sampai ke "CiLukBa"

Jika pernyataan Mendiknas -- sementara versi LIPI, 6,7 persen dari 220 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia -- bisa kita pegang, berarti pemerintah telah sukses mengentaskan penduduk buta huruf sekitar 10 persen (jumlah buta aksara di Indonesia tahun 1996 sekitar 16 persen). Dengan kata lain, jumlah penduduk yang telah melek huruf hingga akhir tahun 2004 sebesar 93,3 persen. Sunguh istimewa. Karena rata-rata di negara berkembang, hanya sekitar 69 persen.


Baik. Katakanlah kita percaya dengan data yang diberikan Mendiknas: ada lebih dari 200 juta penduduk Indonesia yang melek huruf. Akan tetapi, mengapa persentase akses masyarakat terhadap koran hanya 2,8 persen? Tahun 1999 saja, rasio jumlah penduduk dengan surat kabar di Indonesia hanya 1 : 43 alias satu surat kabar dibaca oleh 43 orang. Bandingkan dengan Malaysia (1 : 8,1), Jepang (1 :1,74), serta India (1: 38,14).

Jumlah buiku baru yang diterbitkan pun hanya 0,0009 persen dari total penduduk. Artinya, sembilan judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Padahal rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. Negara maju memiliki 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187). Rupa-rupanya melek huruf yang tinggi tidak selalu diikuti dengan bertambahnya jumlah buku dan media teks lainnya sebagai ukuran sahih melek budaya.

Buta huruf-budaya
Satu-satunya spasi interpretasi atas kontradiksi data tersebut adalah: besarnya angka buta huruf secara budaya. Bisa membaca, tapi jarang, bahkan tidak pernah mempraktikkan kemampuan membacanya. Salah satu sebab bisa karena bahan bacaan yang langka, susah mengakses bahan bacaan, atau karena sebagian besar waktunya digunakan untuk pekerjaan teknis yang melelahkan.

Secara personal, untuk mengetahui apakah secara budaya kita tergolong sudah melek huruf atau sebaliknya adalah dengan cara menanyakan: apakah secara rutin menulis surat pribadi (surat pembaca ke media, surat untuk teman, keluarga, dan kerabat dekat, atau menulis di buku harian)?

Lalu, apakah setiap bulannya menganggarkan sekian persen dari gaji untuk membeli buku? Apakah sudah menjadikan baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan? Apakah kebutuhan untuk mendengar dan berbicara tidak selalu lebih besar daripada kebutuhan untuk membaca dan menulis? Jika jawaban atas serangkaian pertanyaan tersebut adalah "tidak!", maka sejatinya kita masih tergolong buta huruf secara budaya.
Akibat yang paling tampak dari buta huruf secara budaya adalah bertumbuhnya masyarakat cilukba. Istilah ini merujuk pada permainan atau simulasi ekspresi yang begitu cepat (tutup-buka muka). Pertumbuhan masyarakat semacam ini kian cepat, seiring kehadiran "guru” paling berpengaruh di abad ini: televisi! Televisi sebagai sisa-sisa ledakan besar (big bang) elektronik, terhitung telah sukses mengajari penontonnya beradab cilukba.

Dunia tanpa koherensi
Televisi menyajikan peristiwa "ini" sekarang, lantas peristiwa "itu” kemudian, meloncat ke hadapan kita sekejap, lalu menghilang lagi. Menurut Neil Postman, guru besar ilmu komunikasi dari Universitas New York, inilah yang disebut dunia di mana tidak ada koherensi maupun penjelasan yang masuk akal. Sepenuhnya berdiri sendiri. Seperti halnya cilukba, permainan untuk bersenang, televisi juga berbicara dalam satu bahasa: kesenangan (hiburan).

Pagi menyajikan berita aksi teror bom bunuh diri, yang membuat tegang, panas-dingin penonton. Malam tetap membuat penonton tegang, panas-dingin, karena sajian (musik) dangdut! Siang melarutkan penonton dalam kesedihan dengan liputan bencana tsunami di Aceh. Malam memicu adrenalin penonton dengan siaran langsung F1 (Formula Satu).

Di dalam televisi, simulasi cilukba tersebut terus berlangsung. Bahkan, kecepatannya melampaui kecepatan empati penontonnya. Akibatnya buat mereka, dangdut, F1, bencana tsunami, aksi teror bom, bermakna sama. yaitu hiburan.

Mereka mengadopsi pola cilukba televisi ke dalam keseharian-masyarakat tontonan. Budaya, komentar (lisan) jadi dominan.

Apa pun dikomentari, dari soal gosip perselingkuhan artis hingga soal rencana kenaikan gaji pegawai negeri. Gemar ngomel, tentang segala macam persoalan : mulai dari terorisme, korupsi, BBM, sinetron misteri, kuis SMS. Semua sebagai ajang katarsis (hiburan). Sekadar tahu (fakta). Tanpa  bermaksud mengetahui lebih jauh, apa yang sebenarnya terjadi di balik persoalan tersebut (realita).

Masyarakat cilukba adalah masyarakat hangat-hangat tahi ayam . Gampang heboh, latah, emosinya gampang tersulut, tetapi juga gampang lupa. Kemarin ramai bicara harga BBM, sekarang sibuk berbicara soal impor beras, besok soal reshuffle kabinet, lusa entah larut tentang apa lagi. Ketika ditanya apa makna dari itu semua, jawabannya jana satu: lupa tuh!

PENDIDIKAN YANG HOLISTIK

Standar ujian nasional sedang menjadi topik diskusi hangat antara pemerintah dan DPR. Bahkan Komisi X DPR mendesak pemerintah merevisi PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pertentangan antarpasal yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan nasional serta adanya kesenjangan mutu pendidikan antardaerah adalah dua alasan mendasar di
balik desakan revisi itu (Kompas Online, 11/5/2006). Perdebatan itu menambah panjang deret ketidakstabilan sistem pendidikan nasional.

Paradigma pendidikan
Meski pemerintah harus bertanggung jawab atas mutu pendidikan nasional, pihak yang paling tahu tentang mutu dan kemampuan anak didik adalah pendidik. Dengan demikian, tugas dan hak pendidiklah untuk memberi penilaian. Penetapan standar nasional untuk kelulusan mengandaikan mutu pendidikan di tiap daerah sama. Kenyataannya, masih ada jurang perbedaan antara proses pendidikan di kota dan desa, bahkan antarprovinsi dan pulau.

Penetapan batas minimal kelulusan 4,5 memberi gambaran, pemerintah memandang proses pendidikan hanya sebagai transfer ilmu pengetahuan yang bisa mudah diukur dengan angka. Penetapan itu mereduksi makna pendidikan sebagai sebuah proses pematangan pribadi mencakup pengembangan, kognisi, afeksi, mental, dan kepribadian.
John Dewey dalam buku Education and Democracy (1916) telah mendengungkan konsep pendidikan integral berdasarkan pada kemampuan, kebutuhan, dan pengalaman peserta didik. Pendidikan yang berbasis realitas dan pengalaman anak didik sebenarnya bentuk perlawanan dan kritik pada pola-pola pendidikan tradisional yang hanya memindahkan ilmu pengetahuan masa lampau kepada tiap generasi baru.

Pendidikan tidak dimaksud sekadar mencetak orang yang pandai menghafal dan berhitung, tetapi melahirkan orang-orang berpribadi matang. Pendidikan tidak hanya tempat mengasah ketajaman otak, tetapi tempat menyemai nilai-nilai dasar kehidupan guna menggapai masa depan dan hidup bermasyarakat. Bangsa Indonesia amat membutuhkan sistem pendidikan seperti itu, terutama untuk melahirkan generasi muda yang tangguh dan bertanggung jawab, dan mampu memperbaiki kehidupan bangsa
ini.

Maka, kengototan pemerintah untuk tetap melangsungkan ujian dengan standar nasional, hanya karena ingin mendorong peserta didik bekerja keras, tidak akan memberi dampak positif berkelanjutan bagi kematangan dan kemandirian peserta didik. Bahkan standar itu tidak representatif sebagai titik acuan untuk mengetahui kualitas pendidikan bangsa ini.
Sementara revisi pasal-pasal PP No 19/2005, sebagaimana didesakkan DPR, tidak akan berarti bila tidak ada pembaruan dan rekonstruksi terhadap paradigma pendidikan.

Tugas pemerintah
Dalam konteks pendidikan holistik, pemerintah tidak perlu mengambil alih peran pendidik dengan menetapkan standar pendidikan sebab pemerintah tidak berhubungan langsung dengan peserta didik. Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi dan sistem pendidikan yang efektif, integral, dan mengembangkan pendidik maupun peserta didik.

Pertama, pemerataan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan. Di banyak daerah sarana dan prasarana pendidikan amat memprihatinkan. Kurangnya tenaga pengajar di pedalaman, banyak gedung sekolah tak layak pakai, dan penggemblengan mental pengabdian pendidik, merupakan pekerjaan besar yang harus diprioritaskan dan dituntaskan pemerintah.
Amat tidak masuk akal bila pemerintah tiba-tiba menetapkan standar kelulusan secara nasional, sementara pembangunan dan pemajuan pendidikan masih amat parsial.

Kedua, perubahan sistem pendidikan dari sentralisasi ke desentralisasi. Perubahan ini amat memungkinkan pihak sekolah untuk bereksplorasi, baik dalam program maupun kurikulum yang benar-benar kontekstual, yaitu berdasarkan pada kebutuhan anak didik dan menyatu dengan budaya dan karakter setempat. Jadi standar penilaian terletak pada tingkat penambahan pengetahuan serta pengembangan kepribadian, seperti menghargai orang lain, menghormati perbedaan, kedisiplinan, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

Ketiga, proses pendidikan yang holistik juga menuntut adanya budaya belajar di kalangan masyarakat. Dengan demikian, proses pendidikan tidak dapat dikotakkan dalam pendidikan formal belaka, tetapi perlu dibuat sistem pendidikan berkesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari ritme kehidupan masyarakat sebab masyarakat menentukan proses pendidikan melalui nilai- nilai dan strukturnya. Sebaliknya pendidikan menyumbangkan nilai-nilai untuk perubahan masyarakat. Membangun budaya membaca di masyarakat bisa dijadikan titik berangkat untuk membangun budaya belajar ini.
Berkembang tidaknya sistem pendidikan bangsa, tidak terletak pada standar ujian nasional diberlakukan atau jadi tidaknya PP No 19/2005 direvisi, tetapi pada lahir tidaknya sistem pendidikan baru yang mengembangkan nilai- nilai hakiki kemanusiaan. Selama proses pendidikan tetap bermodel pengajaran, transfer ilmu, dunia pendidikan hanya melahirkan orang-orang pintar tetapi belum tentu benar, ahli tetapi belum tentu rendah hati, cerdas tetapi belum tentu bijaksana.

Education Qualities

Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan



Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.



Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.



Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.



Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.



Pendidikan Cenderung Dibisniskan.



Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.



Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.



Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?



Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.



Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.



Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.



Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.



Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."



Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.

Trik Sederhana Mencari Ilmu di Internet


"TRIK SEDERHANA MENCARI ILMU DI INTERNET"

Bagi yang sering surfing di Internet akan terasa sekali bahwa tidak mudah untuk mencari ilmu di Internet. Seringkali pada saat kita surfing justru tenggelam dalam lautan informasi; terlalu enak membaca-baca tanpa tujuan yang jelas; melihat-lihat berbagai etalase informasi di berbagai situs tanpa tujuan yang jelas hanya untuk memuaskan mata & pikiran; memang pada akhirnya kita akan memperoleh banyak informasi tapi belum tentu memperoleh sesuatu yang betul-betul bermanfaat atau biasanya maksimum kita akan memperoleh berita-berita / informasi terakhir sebagai pengganti koran.



Bagi anda yang mempunyai waktu yang sempit saya yakin tidak mungkin menggunakan pola-pola di atas untuk melakukan surfing di Internet. Kita perlu menggunakan metoda / pola yang baik supaya bisa memperoleh informasi yang sangat spesifik dengan baik dalam waktu yang singkat. Satu hal yang perlu di pegang erat-erat pada saat kita surfing adalah menentukan dengan sangat jelas niat / tujuan utama pada saat surfing tersebut - apa yang akan kita cari? Pada kesempatan ini saya akan memberikan sedikit tip & trik jika kebetulan niat anda adalah mencari ilmu di Internet.



Untuk menghemat waktu & pulsa biasanya saya surfing pada pukul 4-6 pagi (subuh); pada saat itu tidak banyak orang yang menggunakan Internet sehingga pengambilan informasi dari Internet dapat dilakukan dengan cepat & effisien. Teknik-teknik untuk melakukan sinkronisasi menggunakan browser yang kita gunakan (seperti Internet Explorer) ada baiknya di kuasai supaya tidak menghabiskan waktu / pulsa untuk membaca informasi tersebut akan tetapi cukup mendownload semua informasi tersebut ke PC yang kita gunakan & membaca-nya kemudian secara off-line pada saat telepon kita putuskan. Teknik sinkronisasi pernah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya; dan sangat penting untuk menghemat waktu dalam mendownload berbagai informasi setelah situs-nya di temukan.



Untuk mencapai situs / informasi yang tepat trik yang harus digunakan sebetulnya tidak terlalu rumit. Cara yang paling effektif / sederhana adalah:



" Menggunakan search engine di Internet.

" Menggunakan keyword yang benar.



Jika kedua hal tersebut anda lakukan dengan baik & benar maka akan diperoleh ilmu & pengetahuan yang baik.



Ada banyak sekali search engine di Internet. Search engine hanyalah memuat daftar alamat situs (berbentuk Universal Resource Locator - URL) & subjek yang di bawa situs tersebut saja. Search engine umumnya tidak membawa informasi itu sendiri. Beberapa search engine favourite saya adalah:



http://www.yahoo.com

http://www.infoseek.com



dan untuk mencari hal-hal yang berkaitan untuk pendidikan anak-anak saya biasanya menggunakan:



http://www.yahooligans.com



Tampak pada gambar adalah tampilan yahooligans.com. Saya sangat menyarankan bagi anda yang mempunyai putra-putri untuk menggunakan situs ini untuk mencari hal-hal yang bermanfaat untuk menunjang pendidikan anak.



Yahoo.com & infoseek.com mempunyai karakteristik yang berbeda; biasanya jika kita mencari hal-hal yang cukup solid atau mencari dalam kerangka institusi, negara dll saya biasanya menggunakan yahoo.com. Untuk hal-hal yang betul-betul baru atau belum terstruktur dengan baik maka saya menggunakan infoseek.com.



Selanjutnya adalah penggunakan keyword yang tepat. Keyword tersebut di ketikan ke dalam kolom yang kosong di search engine. Tampak pada contoh situs yahooligans.com kolom untuk memasukan keyword terletak di sebelah tombol "search".



Keyword favourite saya adalah:



FAQ

Whitepaper



FAQ adalah Frequently Asked Questions (FAQ). Sesuai namanya FAQ akan memuat berbagai jawaban dari pertanyaan yang sering ditanyakan dalam sebuah bidang. Saya biasanya menggunakan FAQ sebagai awal dalam mencari berbagai informasi / pengetahuan yang saya butuhkan.



Whitepaper adalah istilah bagi berbagai ilmu / informasi yang memang di sebarkan secara gratis / cuma-cuma di Internet. Kita cukup menambahkan beberapa keyword tambahan yang menjelaskan tentang ilmu / informasi yang spesifik yang kita cari, contoh:



Faq gardening

Whitepaper telecommunication

Faq distance learning



Dengan menggunakan rangkaian keyword tersebut hampir di jamin anda akan memperoleh informasi / pengetahuan yang anda cari. Tentunya karena kita menggunakan internet maka informasi / pengetahuan yang terbanyak umumnya mengunakan bahasa inggris - konsekuensi-nya keyword yang digunakan sebaiknya dalam bahasa inggris agar kemungkinan memperoleh ilmu yang di cari dapat maksimal.



Selamat mencoba.

Komersialisasi Pendidikan Tinggi

Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang digunakan untuk Research & Development (R&D) serta arena penyemaian manusia baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Secara umum dunia pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.



Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.



Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.



Ditengah besarnya angka pengangguran di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 45 juta orang, langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi.



Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja.



Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.



Lebih parah lagi, bahkan ada PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses PEMBODOHAN BANGSA bukan mencerdaskan BANGSA. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.



Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan di Indonesia hanya menjadi komoditi bisnis semata.



Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.

Jumat, 03 Desember 2010

SEJARAH BERDIRINYA MASSA

MASSA berdiri atas inisiatif dari mahasiswa alumni MAN Salopa yang mengenyam pendidikan (kuliah) di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan masukkan dari para guru Man Salopa. Berawal dari perkumpulan kecil dan obrolan-obrolan di kostan anggota pada waktu itu di kostan wahyu permana (mahasiswa PAI alumni Man Salopa angkatan 2007) dengan mengumpulkan semua mahasiswa alumni MAN Salopa. Selain itu juga berdirinya massa dilatarbelakangi oleh rasa tanggung jawab para alumni pada adik-adik yang akan melanjutkan kuliah supaya kejadian-kejadian ketir dan sedih yang dialami oleh angkatan pertama (waktu itu yang pertama masuk tercatat ialah Yusuf Abdillah mahasiswa alumni dari angkatan 2005).
Dari perkumpulan itu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang diantaranya kepengurusan dan program kerja dari massa. Pada waktu itu terpilihlah Yusuf Abdillah (Ketua), Elis Sholihah (Sekretaris), Wahyu Permana (Bendahara) dan yang lainnya menjadi Sekbid. Pemilihan pengurus didasarkan atas beberapa kriteria, diantaranya: 1. Yang di tuakan; 2. Fasih; 3. Berpengalaman; dan 4. Faktor yang ketiga itu ada pada diri siapa.
Namun dalam perjalanannya tidaklah semulus dan semudah yang di bayangkan. Setelah sekian lama berdiri dari mulai 2007 sampai 2009 mengalami kemandegan dalam menjalankan program kerjanya. Namun, semua itu dapatlah dimengerti dan dimaklum disamping ada yang fokus dengan mengurus persyaratan untuk tingkat akhirnya juga semua anggota massa aktif mengikuti organisasi kampus.
Pada perkembangan selanjutnya, dengan inisiatif dari Pembina (Pak Ade Bunyamin, M.Ag), hari jum’at tanggal 22 oktober 2010 alhamdulillah akhirnya para anggota massa berhasil dikumpulkan walaupun hanya sebagian yang hadir, tapi itu menandakan anggota masih loyal terhadap almamaternya. Perkumpulan itu dihadiri sekitar 13 orang yang hadir dari anggota massa. Dari perkumpulan itu dihasilkan beberapa kesepakatan dan pengangkatan ketua baru, dengan Ali Zaenudin (Ketua), Ai Ibah Muhibbah (Sekretaris), Ai Nendah Tsamrotul Fuadah (Bendahara), Humas (dari masing-masing angkatan) dan acara (Eri Nuryaman dan Roni Jaelani). Sebenarnya mengenai program yang diajukan belumlah final dan baru rancangan, dari hasil kumpulan itu pula dihasilkan mengenai kegiatan yang akan pertama kali dilakukan, pertemuan rutin anggota (setiap 2 bulan sekali) dan iuran kas anggota.

Senin, 15 November 2010

AD ART MASSA

ANGGARAN DASAR

MUQADDIMAH
Sesungguhnya manusia mempunyai kewajiban untuk berbakti kepada Allah Swt, rasul- Nya, agama bangsa dan negaranya, diantaranya adalah mempererat hubungan antar sesamanya guna mendapat kasih dan sayang dari Allah Swt, menjalankan sunnah rasul- Nya, mempertahankan agamanya, memajukan bangsa dan negaranya, begitu pula pemuda sebagai tulang punggung dan harapan bangsa mempunyai kedudukan tugas yang sangat urgen didalamnya.
Dalam rangka mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, senantiasa berusaha agar terwujudnya insan Indonesia yang seutuhnya guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuan serta persaudaraan, membangkitkan keilmuan dan berperan serta dalam pembangunan, dan sebagai bahan acuan dan dasar hukum MASSA Cabang UIN SGD Bandung membuat Anggaran Dasar kami sebagai berikut:

BAB I
NAMA, TEMPAT DAN WAKTU

Pasal 1
Nama
Himpunan ini bernama “Mahasiswa Alumni MAN Salopa Cabang UIN SGD Bandung atau MAN Salopa Student Association Cabang UIN SGD Bandung disingkat MASSA”.

Pasal 2
Tempat
MASSA Cabang UIN SGD Bandung berkedudukan di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. Cipadung Bandung.

Pasal 3
Waktu
MASSA Cabang UIN SGD Bandung didirikan pada tanggal 01 Juli 1985 masehi bertepatan dengan tanggal 03 Rajab 1407 hijriyah, untuk WIB dan waktu yang tidak terbatas.






BAB II
AZAS DAN SIFAT

Pasal 4
Azas
MASSA Cabang UIN SGD Bandung berazaskan Pancasila.

Pasal 5
Sifat
MASSA Cabang UIN SGD Bandung bersifat Kekeluargaan.

BAB III
TUJUAN DAN USAHA

Pasal 6
Tujuan
MASSA Cabang UIN SGD Bandung bertujuan untuk memupuk rasa kekeluargaan antar sesame anggota, mempertahankan agama, memajukan bangsa dan Negara sehingga terciptanya insane yang bertaqwa dan berperan serta dalam pembangunan.

Pasal 7
Usaha
MASSA Cabang UIN SGD Bandung mengadakan usaha dengan cara:
1. Menggalang siaturahmi antar sesama anggota
2. Membimbing anggota dalam upaya meningkatkan kualitas jasmani dan rohani yang optimal
3. Menumbuhkan kreatifitas dan keterampilan anggota
4. Meningkatkan kesejahteraan anggota
5. Mengabdikan diri kepada masyarakat, agama, bangsa dan Negara dalam upaya Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.

BAB IV
KEANGGOTAAN DAN KEPENGURUSAN

Pasal 8
Keanggotaan
Anggota MASSA Cabang UIN SGD Bandung terdiri dari:
1. Anggota Biasa
2. Anggota Luar Biasa
3. Anggota Istimewa
4. Anggota Kehormatan.


Pasal 9
Kepengurusan
Pengurus MASSA Cabang UIN SGD Bandung terdiri dari Pengurus Harian Dan Pengurus Bidang.


BAB V
MUSYAWARAH

Pasal 10
Musyawarah MASSA Cabang UIN SGD Bandung terdiri dari:
1. Musyawarah Anggota (MUSYAG)
2. Musyawarah Anggota Luar Biasa (MALB).

BAB VI
PEMBIAYAAN

Pasal 11
Pembiayaan MASSA Cabang UIN SGD Bandung bersumber dari:
1. Iuran Anggota dan Pengurus
2. Donatur Tetap
3. Bantuan dari alumni
4. Bantuan dari madrasah
5. Bantuan dari Pemerintah
6. Sumbangan dan Usaha lain yang Halal dan Tidak Mengikat.

Pasal 13
Perubahan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dilaksanakan pada Musyawarah Anggota (MUSYAG) yang dilaksanakan khusus untuk ini.

BAB VIII
KELENGKAPAN ORGANISASI

Pasal 14
Untuk melaksanakan kegiatannya, MASSA Cabang UIN SGD Bandung mempunyai kelengkapan organisasi.

BAB IX
PENUTUP

Pasal 15
Anggaran Dasar (AD) ini ditetapkan pada Musyawarah Anggota (MUSYAG) MAN Salopa Student Association Cabang UIN SGD Bandung pada tanggal 30 Juli 2009 yang bertempat di Sekretariat MASSA Cabang UIN SGD Bandung.


Ditetapkan di Bandung
Tanggal : … ……….. 2010
Waktu : Pukul ……. WIB
Ketua




Yusuf Abdillah Sekretaris




Elis Sholihah











ANGGARAN RUMAH TANGGA

BAB I
KENGGOTAAN

Pasal 1
Anggota
Anggota MAN Salopa Student Association Cabang UIN SGD Bandung terdiri dari
1. Anggota Biasa, yaitu mahasiswa yang berasal dari MAN Salopa dan berdomisili di UIN SGD Bandung dan tetap mengikuti kegiatan MASSA Cabang UIN SGD Bandung
2. Anggota Luar Biasa, yaitu mahasiswa yang tidak termasuk point 1 yang menyatakan diri menjadi anggota melalui MASSA Cabang UIN SGD Bandung
3. Anggota Istimewa, yaitu anggota yang sudah lengser dari jabatan
4. Anggota Kehormatan, yaitu orang yang telah berjasa kepada MASSA Cabang UIN SGD Bandung

Pasal 2
Hak Anggota
Anggota MASSA Cabang UIN SGD Bandung mempunyai hak sebagai berikut:
1. Anggota Biasa
a. Mengeluarkan pendapat, Mengajukan usul dengan cara lisan maupun tulisan
b. Memilih dan Dipilih menjadi Pengurus Harian.
2. Anggota Luar Biasa
a. Mengeluarkan Pendapat, Mengajukan usul dengan cara lisan maupun tulisan
b. Memilih dan Dipilih menjadi Pengurus Bidang.
3. Anggota Istimewa
a. Mengeluarkan Pendapat, Mengajukan usul dengan cara lisan maupun tulisan
b. Mengembangkan MASSA Cabang UIN SGD Bandung
4. Anggota Kehormatan
a. Mengeluarkan Pendapat, Mengajukan usul dengan cara lisan maupun tulisan
b. Mengembangkan MASSA Cabang UIN SGD Bandung

Pasal 3
Kewajiban Anggota
Anggota MASSA Cabang UIN SGD Bandung berkewajiban:
1. Mentaati Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) serta keputusan lainnya
2. Menjaga nama baik dan Meningkatkan citra MASSA Cabang UIN SGD Bandung
3. Mengikuti kegiatan MASSA Cabang UIN SGD Bandung

Pasal 4
Kehilangan Keanggotaan
Kehilangan Keanggotaan MAN Salopa Student Association Cabang UIN SGD Bandung disebabkan:
1. Meninggal dunia
2. Atas permintaan sendiri
3. Dikeluarkan oleh pengurus dengan melalui hasil Musyawarah Pengurus dan Anggota.
BAB II
KEPENGURUSAN

Pasal 5
1. Pengurus terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, Wakil Bendahara Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Bidang dan Anggota Bidang
2. Bidang terdiri dari Pengemangan Nalar dan Intelektual, Pembinaan Aparat dan Organisasi (PAO), Pembinaan Minat dan Bakat, Pengabdian Masyarakat, Kesejahteraan dan Komunikasi antar alumni
3. Jumlah pengurus dan komposisinya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 6
Masa bakti pengurus MASSA Cabang UIN SGD Bandung adalah satu tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa bakti berikutnya.

BAB III
PEMBINA DAN PINISEPUH
Pasal 7
Pembina
Pembina adalah kepala sekolah, guru-guru, senior alumni dan masyarakat yang ikut membina MASSA Cabang UIN SGD Bandung dan disahkan melalui Musyawarah Anggota (MUSYAG).

Pasal 8
Pinisepuh atau Penasehat
Pinisepuh atau Penasehat adalah kepala sekolah, guru-guru, senior alumni dan masyarakat yang ikut membina MASSA Cabang UIN SGD Bandung dan disahkan melalui Musyawarah Anggota (MUSYAG).

BAB IV
MUSYAWARAH

Pasal 9
1. Musyawarah Anggota (MUSYAG)merupakan kekuasaan tertinggi
2. Musyawarah Anggota (MUSYAG) dilaksanaka untuk menetapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), Mekanisme Kerja, Menysun Program Kerja, Meminta Pertanggung Jawaban Pengurus Memilih Formateur (Calon Ketua) dan Mid Formateur (Calon Sekreataris) dan Mengesahkan Pembina dan Penasehat atau Pinisepuh
3. Musyawarah Anggota (MUSYAG) dilaksanakan empat tahun satu kali
4. Jika menghadapi hal- hal yang mendadak dapat dilaksanakan Musyawarah Anggota Luar Biasa (MALB)
5. Keputusan diambil secara Musyawarah dan Mufakat apabila disetujui oleh setengah lebih dari satu dari jumlah anggota yang hadir.


Pasal 10
Rapat Pengurus
Rapat Pengurus terdiri dari:
1. Rapat Pengurus Harian sekurang- kurangnya satu bulan satu kali
2. Rapat Pleno sekurang- kurangnya empat kali dalam empat tahun.

BAB V
KELENGKAPAN ORGANISASI

Pasal 11
MASSA Cabang UIN SGD Bandung mempunyai kelengkapan organisasi (bendera, lambang, Hymne dan Mars, dan Pakaian Resmi (Jas, Jacket, Rompi dan Kaos), Stempel dan lain- lain) yang diatur dalam ketetapan tersendiri.

Ditetapkan di Bandung
Tanggal : 30 Juli 2007
Waktu : Pukul 08.00 WIB
Ketua




Yusuf Abdillah Sekretaris




Elis Sholihah



MEKANISME KERJA PENGURUS

I. PENDAHULUAN

Untuk mencapai kedinasan organisasi harus didukung oleh keuletan pengurus dan anggota serta kelengkapan sarana yang memadai, diserati dengan penataan yang efektif dan efesien.
Terbinanya organisasi dalam menjalankan kegiatan harus ditopang oleh pengurus yang bekerja efektif, dan system komunikasi yang tepat, program realistis serta didukung oleh partisipasi anggota.
Demi terpenuhinya hal diatas, maka diatur tentang mekanisme kerja pengurus supaya menghantarkan organisasi pada proporsi yang dituju hingga mencapai organisasi yang dinamis, tertib dan lancar.

II. TUJUAN DAN SASARAN

1. Terwujudnya kebutuhan organisasi yang memadai
2. Terbinanya Integritas Ukhuwah Islamiyah antar Anggota, Pengurus, Pembina dan Penasehat atau Pinisepuh

III. TATA KERJA ORGANISASI

A. PENASEHAT ATAU PINISEPUH DAN PEMBINA
Hak Dan Kewajiban
1. Membina dan mengembangkan organisasi MASSA Cabang UIN SGD Bandung
2. Mengarahkan pengurus dan anggota dalam setiap aktifitas dan kretifitas organisasi
3. Hal- hal penting yang terkait dengan kebijakan prinsip dalam membina dan mengembangkan MASSA Cabang UIN SGD Bandung harus didasarkan kepada hasil musyawarah.

B. PENGURUS
Hak Dan Kewajiban
1. Pengurus bertanggung jawab kepada Musyawarah Anggota (MUSYAG)
2. Pengurus dalam hal ini ketua umum berhak memberikan peringatan dan meresufle (mengganti) pengurus yang menjalankan masa baktinya dengan melalui rapat pengurus
3. Penetapan kebijakan pelaksanaan program kerja ditanggungjawabi ketua umum dengan melalui musyawarah
4. Semua keputusan diambil dengan musyawarah dan mufakat, apabila tidak tercapai dapat dilakukan dengan mengambil suara yang terbanyak (Vooting).
5. Ketua Bidang merupakan coordinator dalam pelaksanaan program kerja.

C. RAPAT DALAM ORGANISASI
1. Musyawarah Anggota (MUSYAG) adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota untuk mendengarkan dan mengevaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus, menetapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), menyusun program kerja dan memilih pengurus untuk masa bakti berikutnya.
2. Rapat Pleno adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh pengurus, minimal dua kali dalam empat tahun untuk memberikan laporan dan evaluasi.
3. Rapat Pengurus Harian adalah rapat yang dihadiri pengurus harian, minimal dilaksanakan satu bulan satu kali.
4. Rapat Bidang adalah rapat yang dilaksanakan oleh ketua bidang, minimal satu bulan satu kali.

IV. TATA ADMINISTRASI

1. Dalam melaksanaan aktifitas kesekretariatan ditangani oleh sekretaris umum
2. Surat menyurat dikeluarkan berdasarkan nomor urus
3. Untuk kode surat adalah sebagai berikut:
a). Surat Didalam Organisasi
- Untuk Ketua Umum : */ A/ Sek/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang I : */ A/ Sek/ I/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang II : */ A/ Sek/ II/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang III : */ A/ Sek/ III/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang IV : */ A/ Sek/ IV/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang V : */ A/ Sek/ V/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang VI : */ A/ Sek/ VI/ TK/ **/****

b). Surat Untuk Keluar Organisasi
- Untuk Ketua Umum : */ B/ Sek/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang I : */ B/ Sek/ I/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang II : */ B/ Sek/ II/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang III : */ B/ Sek/ III/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang IV : */ B/ Sek/ IV/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang V : */ B/ Sek/ V/ TK/ **/****
- Untuk Ketua Bidang VI : */ B/ Sek/ VI/ TK/ **/****

c). Surat Keputusan : */ A/ B/ Kpts/ Sek/ TK/ **/ ****
d). Surat Ketetapan : */ A/ B/ Tap/ Sek/ TK/ **/ ****
e). Surat Mandat : */ A/ B/ Mdt/ Sek/ TK/ **/ ****
f). Surat Resufle : */ A/ B/ Res/ Sek/ TK/ **/ ****
g) Surat Kepanitiaan : */ A/ Pan-***/ TK/ **/ ****
Keterangan:
* = Nomor Surat Secara Berurutan *** = Kegiatan
** = Bulan Masehi **** = Tahun Masehi


V. TATA KEUANGAN DAN KESEJAHTERAAN

1. Kebijakan masalah keuangan berada ditangan bendahara umum dan wakilnya dengan persetujuan ketua umum
2. Pengaturan dana keuangan sebagai berikut:
a. Sumber dana berasal dari Pemda TK II Kabupaten Tasikmalaya, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, alumni, Penasehat atau Pinisepuh, Pembina, Senior, Pengurus Dan Anggota Serta Sumbangan lain yang Halal dan Tidak Mengikat
b. untuk melaksanakan pemungutan dan pendistribusian keuangan diatur kenudian disesuaikan dengan kebutuhan
c. Menyelenggarakan usaha- usaha yang halal untuk menambah sumber dana.

VI. PEMBAGIAN TUGAS

1. Ketua Umum
a. Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilaksanakan oleh MASSA Cabang UIN SGD Bandung
b. Mengemban amanat Musyawarah Anggota (MUSYAG)
c. Berfungsi sebagai pengambilan kebijakan umum untuk menjaga kestabilan dan kedinamisan organisasi
d. Meresufle pengurus yang tidak melaksanakan masa baktinya setelah diperingati terlebih dahulu

2. Koordinator Bidang Nalar Dan Intelektual
a. Melaksanakan program kerja bidang Nalar Dan Intelektual
b. Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja bidang nalar dan intelektual
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

3. Koordinator Bidang Pembinaan Aparat Dan Organisasi
a. Melaksanakan program kerja bidang Pembinaan Aparat dan Organisasi
b. Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja bidang pembinaan aparat dan organisasi
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

4. Koordinator Bidang Pengembangan Minat dan Bakat
a. Melaksanakan program kerja bidang Pengembangan Minat dan Bakat
b. Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja bidang Pengembangan Minat dan Bakat
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

5. Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat
a. Melaksanakan program kerja bidang Pengabdian Masyarakat
b. Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja bidang Pengabdian Masyarakat
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum

6. Koordinator Bidang Kesejahteraan
a. Melaksanakan program kerja Bidang Kesejahteraan
b. mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja Bidang Kesejahteraan
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

7. Koordinator Bidang Komunikasi Antar Alumni
a. Melaksanakan program kerja Bidang Komunikasi antar alumni
b. mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kerja Bidang Komunikasi antar alumni
c. Mewakili ketua umum apabila berhalangan hadir
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

8. Sekretaris Umum
a. Bertanggung jawab atas kelangsungan rapat- rapat atau pertemuan- pertemuan
b. Bertanggung jawab atas seluruh kegiatan administrasi kesekretariatan
c. Bekerjasama dengan ketua umum dalam menjalankan mekanisme kerja organisasi
d. Mewakili ketua umumapabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

9. Sekretaris Bidang Nalar dan Intelektual
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Nalar dan Intelektual
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja bidang nalar dan intelektual
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.

10. Sekretaris Bidang Pembinaan Aparat Dan Organisasi
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Pembinaan Aparat dan Organisasi
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja bidang pembinaan aparat dan organisasi
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.


11. Sekretaris Bidang Pengembangan Minat Dan Bakat
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Pengembangan Minat dan Bakat
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja Bidang Pengembangan Minat Dan Bakat
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.

12. Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Pengabdian Masyarakat
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja bidang Pengabdian Masyarakat
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.

13. Sekretaris Bidang Kesejahteraan
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Kesejahteraan
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja Bidang Kesejahteraan
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.

14. Sekretaris Bidang Komunikasi Antar Alumni
a. Bekerjasama dengan ketua Bidang Komunikasi antar alumni
b. Melaksanakan aktifitas surat menyurat di bidangnya
c. Mencatat dan maengagendakan program kerja Bidang Komunikasi antar alumni
d. Mewakili sekretaris umum apabila berhalangan hadir
e. Bertanggung jawab kepada sekretaris umum.


15. Bendahara Umum
a. Memegang kebujakan organisasi dalam Bidang Keuangan
b. Mencatat keluar masuknya dana organisasi
c. Menerima pemungutan dana dari donator dan anggota
d. Bertanggung jawab kepada ketua umum.

16. Wakil Bendahara Umum
a. Membantu kebijakan pengaturan keuangan dalam kepanitiaan
b. Menerima laporan pemungutan iuran anggota dari Bidang Kesejahteraan
c. Mewakili bendahara umum bila berhalangan hadir
d. Mengkoordinatori pengeluaran harian
e. Memberikan laporan pencatatan keuangan
f. Bertanggung jawab kepada Bendahara Umum.

VII. ATURAN TAMBAHAN

Segala sesuatu yang belum diatur dalam mekanisme kerja ini, akan diatur kemudian berdasarkan musyawarah.
Ditetapkan di Bandung
Tanggal : 30 Juli 2007
Waktu : Pukul 08.00 WIB
Ketua




Yusuf Abdillah Sekretaris




Elis Sholihah


PROGRAM KERJA PENGURUS

I. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan dan memantapkan pembinaan anggota menuju terciptanya menuju kekeluargaan yang harmonis, memerlukan suatu pola pembinaan yang konsepsional dan terpadu. dan untuk menyalurkan potensi anggota diperlukan suatu pembinaan yang terarah dengan sarana dan prasrana yang dapat menampung aspirasi dan aktivitas yang simpatik terhadap organisasi. pola pembinaan tersebut dituangkan dalam program kerja MASSA Cabang UIN SGD Bandung.

II. SASARAN DAN TUJUAN
1. Terlengkapinya sarana dan prasarana
2. Terciptanya hubungan yang harmonis antar anggota, pengurus, alumni, pembina dan pinisepuh atau penasehat
3. Terbinanya anggota yang memiliki esdaran berorganisasi, memiliki kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan
4. Peningkatan daya intelektualitas serta mengembangkan minat dan bakat dikalangan anggota
5. Terciptanya anggota yang memiliki miat untuk mengadakan penyerapan pengetahuan dan pendidikan serta pengabdian terhadap masyarakat
6. Terciptanya komunikasi dan konsolidasi positif dengan organisasi lain serta integritas masyarakat atau Pemerintah Desa Neglasari, Pemerintah Kecamatan Jatiwaras dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

III. PROBLEMATIKA
1. Belum terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai
2. Belum terbinanya anggota yang berfikir kreatif dan dinamis
3. Kurangnya komunikasi dan konsolidasi antar Anggota, Pengurus, alumni, Pembina dan Pinisepuh Atau Penasehat dan Dengan Para Sumber Dana (Donatur Tetap)
4. Masih kurangnya loyalitas anggota terhadap organisasi
5. Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas.

IV. ALTERNATIV PEMECAHAN
1. Melengkapi sarana dan prasarana yang dinutuhkan oraganisasi
2. Menjalankan aktifitas anggota yang berfikir kreatif dan dinamis
3. Mengadakan media komunikasi secara khusus antar Anggota, Pengurus, alumni, Pembina dan Pinisepuh atau Penasehat
4. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.



V. USULAN PROGRAM

A. BIDANG UMUM
Terciptanya kemantapan dan ketertiban oraganisasi, baik intern maupun ekstern yang lebih dinamis dengan meningkatkan koordinasi dan komunikasi
1. Memantapkan kebijakan program kerja
2. Memantapkan kehidupan berorganisasi
3. Koordinasi dengan organisasi dan instansi lain
4. Komunikasi positif dengan sekolah, Pemerintah Desa Neglasari, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya
5. Penampungan aspirasi Anggota, Pengurus, alumni, Pembina Dan Pinisepuh Atau Penasehat
6. Memantapkan sejarah organisasi dengan cara konsolidasi Pembina Dan Pinisepuh Atau Penasehat MASSA Cabang UIN SGD Bandung.

B. BIDANG KESEKRETARIATAN
Terciptanya sarana dan prasarana organisasi yang dibutuhkan untuk dinamisasi organisasi dengan jalan:
1. memelihara dan melengkapi dokumentasi dan inventarisasi organisasi
2. peningkatan perlengkapan sarana di secretariat yang memadai
3. mengadakan aktifitas surat menyurat
4. membenahi tata administrasi dan atau kearsipan yang dibutuhkan
5. rekomendasi dan doumentasi kegiatan.

C. BIDANG KEUANGAN
Terciptanya sarana dan prasarana organisasi yang dibutuhkan untuk dinamisasi organisasi dengan jalan:
1. Mengusahakan subsidi tetap dari pihak pemerintah desa, pemerintah kecamatan dan pemerintah daerah kabupaten tasikmalaya
2. Mengintensifkan dana bulanan dari pembina dan pinisepuh atau penasehat
3. Mengintensifkan iuran anggota setiap bulan
4. Mengusahakan kegiatan yang dapat menghasilkan dana
5. Pengelolaan keuangan yang terencana, tertib dan professional
6. Usaha lain yang halal dan tidak mengikat.

D. BIDANG- BIDANG
Terciptanya personal administrvasi dan aktifitas intern organisasi yang tertib dengan cara:
1. Melaksanakan aktifitas di semua bidang (bidang nalar dan intelktual, pembinaan aparat dan organisasi, pengembangan minat dan bakat, pengabdian masyarakat dan kesejahteraan)
2. Memberikan laporan atas segala aktifitas bidang di bawah koordinasi kerjanya
3. Menyelenggarakan aktifitas penunjang bagi kelancaran program bidang
4. Memotifasi sosialisasi personal pengurus dibawah koordinasi kerjanya
5. Membantu dan mensukseskan program kerja tiap bidang dibawah koordinasi kerjanya.

PROGRAM BIDANG- BIDANG
1. Bidang Pengembangan Nalar Dan Intelektual
a. Menyelenggarakan pengajian bulanan
b. Menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
c. Menyelenggarakan Dialaog antar alumni
d. Menyelenggarakan Dialaog dengan sekolah
e. Menerbitkan Bulletin
f. Pengadaan Perpustakaan/ taman Bacaan.

2. Bidang Pembinaan Aparat dan Organisasi
a. Mengusahakan sekretariat
b. Pendataan dan pembenahan sarana dan prasarana di sekreatariat
c. Pendataan anggota
d. Menyelenggarakan Rapat Kerja (RAKER) dan Pelantikan Pengurus
e. Menyelenggarakan Musyawarah Anggota (MUSYAG)
f. Menyelenggarakan Reuni.

3. Bidang Pengembangan Minat dan Bakat
a. Membuat Kaos Tim Olah Raga
b. Membentuk Tim Paduan Suara MASSA Cabang UIN SGD Bandung
c. Pembinaan Qira’at Al Qur’an
d. Menyelenggarakan Kencana Cup
e. Mengadakan Keterampilan Tangan
f. Membentuk Group Band/ Nasyid/ Qasidah Modern.

4. Bidang Pengabdian Masyarakat
a. Menyelenggarakan Bakti Sosial (BAKSOS) dilingkungan sekolah
b. Mengadakan Majlis Ta’lim
c. Mengadakan MASSA Binaan.

5. Bidang Kesejahteraan
a. Mendata dan Memungut Iuran Anggota
b. Mendata dan Memungut Dana dari Donator Tetap
c. Mengadakan Halal Bil Halal (Silaturahim) dan Tasyakuran
d. Membuat Jas, Jacket Almamater dan Kartu Tanda Anggota (KTA)
e. Perintisan Koperasi MASSA
f. Mengadakan Rihlah/ Camping
g. Menyelenggarakan ulang tahun taruna (natal/ milad)
h. Mempublikasikan setiap kegiatan.

6. Bidang Komunikasi antar Anggota MASSA
a. Mengadakan Silaturahim antar alumni
b. Mengadakan Pertandingan Olah Raga Persahabatan
c. Bekerjasama dengan Bidang I (Pengembangan Nalar dan Intelektual) membuat Buletin
d. Bekerjasama dengan Bidang V (Kesejahteran) mempulikasikan setiap kegiatan.


VI. PRINCIAN ANGGARAN BELANJA ORGANISASI KELUARGA BESAR PEMUDA ANGGOTA MASSA KENCANA

NO NAMA KEGIATAN WAKTU TEMPAT ALOKASI DANA (Rp)
A. BIDANG I (PENGEMBANGAN NALAR DAN INTELEKTUAL)
1. Menyelenggarakan Pengajian Bulanan Tiap bulan 200.000
2. Menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Kondisional 1.000.000
3. Dialaog alumni Oktober 500.000
4. Menerbitkan Bulletin Tiap Bulan 50.000
5. Pengadaan Perpustakaan Mulai Januari 700.000
Jumlah 2.450.000
B. BIDANG II (PEMBINAAN APARAT DAN ORGANISASI)
1. Mengusahakan Sekretariat Oktober 10.000.000
2. Pendataan dan Pembenahan Sarana dan Prasarana di Sekreatariat Mulai April 2.000.000
3. Menyelenggarakan Rapat Kerja (RAKER) dan Pelantikan Pengurus 2.000.000
4. Menyelenggarakan Musyawarah Anggota (MUSYAG) 2.500.000
5. Menyelenggarakan Reuni 500.000
Jumlah 17.000.000
C. BIDANG III (PENGEMBANGAN MINAT DAN BAKAT)
1. Membuat Kaos Tim Olah Raga Mulai april 1.000.000
2. Membentuk Tim Paduan Suara MASSA 500.000
3. Pembinaan Qira’at Al Qur’an 500.000
4. Menyelenggarakan MASSA Cup 3.000.000
5. Mengadakan Keterampilan Tangan 300.000
6. Membentuk Group Band/ Nasyid/ Qasidah Modern 400.000
Jumlah 5.700.000
D. BIDANG IV (PENGAMBIAN MASYARAKAT)
1. Menyelenggarakan Bakti Social (BAKSOS) dilingkungan sekolah Juli- Agustus 1.000.000
2. Mengadakan Majlis Ta’lim 300.000
3. Mengadakan MASSA Binaan 1.000.000
Jumlah 2.300.000
E. BIDANG V (KESEJAHTERAAN)
1. Mendata dan Memungut Iuran Anggota Tiap bulan -----------
2. Mendata dan Memungut Dana dari Donator Tetap Tiap bulan -----------
3. Mengadakan Halal Bil Halal (Silaturahim) dan Tasyakuran 1.000.000
4. Membuat Jas, Jacket Almamater Dan Kartu Tanda Anggota (KTA) 3.000.000
5. Perintisan Koperasi Taruna Kencana 500.000
6. Mengadakan Rihlah/ Camping 500.000
7. Menyelenggarakan Ulang Tahun Taruna (Natal/ Milad) Juli 1.000.000
8. Mempublikasikan setiap kegiatan Kondisional 200.000
Jumlah 6.000.000
F. BIDANG VI (KOMUNIKASI ANTAR ANGGOTA MASSA)
1. Mengadakan Silaturahim Antar alumni 1.000.000
2. Mengadakan Pertandingan Olah Raga Persahabatan/ Friendly 200.000
Jumlah 1.200.000

REKAPITULASI ANGGARAN DANA
NO BIDANG- BIDANG JUMLAH (RP)
1. Bidang I (Pengembangan Nalar Dan Intelektual) 2.450.000
2. Bidang II (Pembinaan Aparat Dan Organisasi) 17.000.000
3. Bidang III (Pengembangan Minat Dan Bakat) 5.700.000
4. Bidang IV (Pengambian Masyarakat) 2.300.000
5. Bidang V (Kesejahteraan) 6.000.000
6. Bidang VI (Komunikasi Antar Anggota MASSA) 1.200.000
Jumlah Total 34.650.000
Terbilang: “TIGA PULUH EMPAT JUTA ENAM RATUS LIMA PULUH RIBU”


VII. SUMBER DANA

a. Pemerintah
b. Alumni
c. Donatur Tetap
d. Iuran Anggota
e. Usaha lain yang Halal dan Tidak Mengikat.


VIII. PENUTUP
Demikianlah program kerja MASSA Cabang UIN SGD Bandung semoga mejadi petunjuk pelaksanaan aktifitas yang akan dilaksanakan.

Ditetapkan di Bandung
Tanggal : 30 Juli 2007
Waktu : Pukul 08.00 WIB
Ketua




Yusuf Abdillah Sekretaris




Elis Sholihah











KELENGKAPAN ORGANISASI

LAMBANG ORGANISASI

Lambang organisasi MASSA Cabang UIN SGD Bandung adalah sebagai berikut:

A. Isi dan Makna Lambang
1. Toga berwarna hitam, berarti MASSA Cabang UIN SGD Bandung merupakan organisasi yang terdiri dari kumpulan intelektual muslim yang disegani, berada dalam bimbingan dan dalam segala aktifitasnya selalu dalam koridor azaz Ummat Islam yaitu Rukun Islam dan juga berazaskan Pancasila
2. Dunia berwarna hijau bertuliskan MASSA, berarti MASSA Cabang UIN SGD Bandung merupakan organisasi yang dengan ke-intelektualan-nya dapat menguasai dunia
3. Lambing tulisan “MAN Salopa Student Association”, berarti lambang kesatuan alumni MAN Salopa, dan MASSA Cabang UIN SGD Bandung mempunyai ikatan lahir dan batin sebagai alumni MAN Salopa

B. Bendera Organisasi
MASSA Cabang UIN SGD Bandung memiliki bendera dengan ketentuan:
1. Ukuran bendera 3X4 meter
2. Bendera berwarna dasar biru
3. Di tengah bendera terdapat lambang dan tulisan MASSA

C. Stempel Organisasi
1. Stempel pengurus sesuai dengan logo, sebagaimana dalam gambar terlampir
2. Stempel kepanitiaan disesuaikan dengan dasar kebutuhan
3. Warna tinta stempel adalah biru violet.

D. Pakaian Seragam Resmi
1. Pakaian seragam resmi berupa jas
2. Warna dasar biru dongker
3. Dibagian dada kiri atas ditempel logo organisasi
4. Dibagian bawah memakai dua buah saku tertutup tanpa kancing
5. Di bagian tangan kanan kiri dilengkapi dengan dua buah kancing.

E. Hymne dan Mars Taruna Kencana
Keluarga Besar MASSA mempunyai hymne dan mars sebagaimana terlampir.























KOMPOSISI PENGURUS

Pelindung : Allah Swt
Penasehat : 1. Kepala Sekolah
: 2. Guru-guru
Pembina : 1. Ade Bunyamin, M.Ag
: 2.
: 3.

Ketua Umum : Yusuf Abdillah
Sekretaris Umum : Elis Sholihah
Bendahara Umum : Wahyu Permana

BIDANG- BIDANG

1. PENGEMBANGAN NALAR DAN INTELEKTUAL
Koordinator : Ade Jaja Nurjaman
: Yeni Nuraeni
:

2. PEMBINAAN APARAT DAN ORGANISASI (PAO)
Koordinator : Eri Nuryaman
: Rijal Maulana
:

3. PENGEMBANGAN MINAT DAN BAKAT
Koordinator : Ali Zaenudin
:
:

4. PENGABDIAN MASYARAKAT
Koordinator :
:
:

5. KESEJAHTERAAN
Koordinator :
:
:

6. KOMUNIKASI ANTAR ANGGOTA MASSA
Koordinator :
:
:
Lampiran 1
LAMBANG


BENDERA







LENCANA KENCANA


STEMPEL ORGANISASI




STEMPEL PENASEHAT

Agenda Acara Tanggal 26 November 2010

ACARA SILATURAHMI MASSA
Jum’at, 05 November 2010
Masjid Iqomah UIN Bandung
1. Pembukaan
2. Sambutan
a. Dewan Pembina : Ade Bunyamin, M.Ag
- Massa sebagai ajang silaturahmi, bertukar informasi
- Massa dijadikan sebagai ajang latihan organisasi buat anggota
- Massa perlu memiliki arah tujuan, perlu adanya AD/ART yang jelas
- Berfikirlah: “apa yang akan saya berikan untuk massa?”
b. Ketua MASSA: Ali Zaenudin
- Mengingatkan pembahasan tentang temu kangen/alumnian
- Mengingatkan tentang iuran kas
c. Sekbid Acara: Eri Nuryaman
- Blogspot MASSA : massauinbandung.blogspot.com
d. Focus bahasan : alumni
Acara :
- Konsepnya harus menyenangkan (camping, outbond, widgame, ngaliwet,

- 2. Ada makna tersirat (misi silaturahmi, misi dakwah, misalnya: silaturahmi)
- Peserta : dari angkatan 2004-2010
- Waktu : Jum’at, Sabtu, Minggu tanggal sekitar tanggal 14,15,16 Januari 2011
- Tempat : lapangan tanjungsari (anjung, tasikmalaya),
Koordinator : Eri Nuryaman
Sekretaris : Roni Jaelani
Bendahara : Ai Ibah Zahrotul Muhibbah
Koordinator Humas : dari masing-masing angkatan
Koordinator Acara : rahmat mubarok
Koordinator Peralatan : asep supriatna
Koordinator Konsumsi : ima permana

e. Pertemuan kembali tanggal : 26 november 2010
f. Siraman rohani : ustadz roni jaelani

Anggota MASSA


Ade Jaja Nurjaman
Agus Nanang Hidayat
Ai Ibah Zahrotul Muhibbah
Ai Nendah SF
Ali Lukmanudin
Ali Zaenudin
Anton Timur Zaelani A.
Asep Supriatna
Cucu Munawaroh
Elis Solihah, S.Pd.
Encep Ali Nurdin
Eri Nuryaman
Iim Muhimmah
Ima Permana
Isep Syarifudin
Kokon Komala
Maman Surahman, S.Pd.
Millati Hanifah
Novyanti Sundaniya Sawina
Nuri Hidayah
Oneng Muawanah
Rahmat Mubarok
Rijal Maulana Zuhri
Roni Jaelani
Sani Hudaya
Tia Heryani
Wahyu Permana
Yeni Nuraeni
Yusup Abdillah, S.Pd.I

news

detik.com

Minggu, 07 November 2010

upgrading

tanggal 26 Novmber 2010
waktu pukul 15.30
tempat Mesjid Iqomah UIN BANDUNG

"S A L A M S E J A H T E R A"